Kali Kedua? Tidak Akan Pernah Ada

Hot dan Iced Matcha Latte, dine in. Ah, donutnya. Dua saja, atau mungkin empat. Ya empat, please”.

Pesananku sore itu terasa lembut, hangat dan manis. Cocok untuk menemani ngobrol sembari menunggu bedug adzan maghrib menyambut waktu berbuka puasa. Bersama pria yang oh tidak bersama teman laki-laki ku – teman sekolah yang kami sangat akrab dan kerap bertukar canda mungkin juga cinta, siapa yang tahu.

“Untuk pembelian donut setengah lusin akan lebih hemat daripada empat buah, apakah pesanan mau dibuat jadi setengah lusin donut atau tetap empat?” Tanya wanita didepan digital screen menu yang tersenyum renyah.

Mengingatkanku pada donut segar yang baru diangkat dari fryer, memiliki cincin keemasan dan berlimpah krim manis yang ringan namun padat. Menggiurkan.

“Oh oke. Tolong buat saja jadi setengah lusin. Aku mau, greentea, greentease, whynut, tira miss u, oreo dan chocoloco”, jawabku sumringah membalas senyum.

Dengan penuh keceriaan, senyum termanis dan langkah kaki percaya diri karena semua hal yang kamu suka ada ditanganku – hal-hal dengan rasa greentea, maksudku. Aku berjalan kearahmu di smoking area yang sedang hanyut dalam lamunan nanggung karna langsung kupecahkan balon tak terlihat itu.

“Hey, mikirin apa sih? Serius banget. Aku minta bukain pintunya tadi sampe gak dilirik. Tugas kuliah ada yang belom selesai ya?”

“Mana pernah mikirin gituan, bengong aja. Eh itu banyak banget kan kita berdua doang, sayang loh kalo gak abis.”

Kamu memang banyak mengkritisi banyak hal. Eh, atau memang hobi protes aja ya?

“Oh gapapa, nanti dipikirin lagi kalau gak habis mau diapain”.

“Ya dimakan aja lah. Maghribnya jam berapa sih?”

“Sebentar lagi kok. Wuih, kamu puasa?”

“Tadi engga, sekarang iya aja deh biar kayak orang-orang”.

Obrolan kita gak banyak, lebih mirip konsep talk show. Aku tanya, kamu jawab. Kalo bukan kamu sih, jemu udah gak bisa ditoleransi lagi. Mungkin lain kali, aku harus bikin susunan acara yang lengkap dengan topik pembicaraan, bridging, fun games dan gimmick kalo ketemu kamu. Biar jadi acara talk show beneran aja sekalian! Tapi aku cukup bisa mengibur diri sendiri, karena kita masih punya agenda lain setelah ini, nonton film. Horror, hehe. Lumayan lah, buat basian lengkap dengan kekehan yang agak dibuat-buat. Seenggaknya, mungkin, entah dibuat-buat atau tidak, kamu bisa ikut nyengir juga.

“Yuk, mau kemana lagi? Udah mulai rame gak jelas nih.”

“Kita nonton ya. Kayaknya bioskop ada di lantai paling atas deh.”      

Belum juga sampai, kami sudah disambut dari jarak yang entah berapa ribu senti tepatnya. Aroma berondong jagung dengan karamel dan mentega, mungkin sedikit nachos keju menyergap indera penciuman dan menari-nari memanjakannya. Tak ketinggalan desir tuangan soda jeli yang menyerbu masuk kedalam gelas kertas yang dicolok sedotan pada tutupnya. Kamu ada disana. Pada selasar bioskop sore itu, persis disampingku yang tanpa kau tahu sol sepatu kiriku mulai kendor dan aku berjalan menyeret.

“Filmnya mulai jam berapa?” Katamu memecah fokusku yang sedang menyesuaikan langkah agar tak kentara deritanya atas sepatuku yang padahal masih baru. Sengaja kupakai untuk pergi denganmu.
“Ah, uhm... itu sepertinya sudah mulai lima menit yang lalu. Gapapa, kan?”
“Ya, gapapa”, singkat seperti biasa.
“Pasti udah gelap. Tolong bantu aku cari tempat duduknya ya nanti”, pintaku.

“Mana tiketnya, coba liat”.
CONJURING 2 F3 dan F4 Studio 5, 18:40. Setidaknya informasi itu bisa diingat lekat-lekat ketika kamu menyodorkan kembali tiketnya padaku.

Bukannya dia saja yang menyimpannya! Setidaknya, kuharap akan menjadi benda yang nantinya terisi oleh jiwaku dan akan terus menemaninya kalau-kalau tidak terbuang atau sengaja dibuang. Pikiran macam apa itu! Perkara tiket saja aku agak berlebihan. Aku selalu berlebihan, baru kusadari setelahnya.

Benar saja, studio bioskop sudah dalam keadaan gelap dengan gegap suara audio khas film horror yang memekakkan. Seperti yang sudah kuminta, kamu mencarikan kursinya, dan menemukannya dalam satu kerjapan mata.
“Kamu aja yang dipojok”, perintahnya dan aku mengiyakan.

Jangan harap ada adegan romantis yang terjadi disela kaget dan ketakutan saat film berlangsung, seperti sedetik dua detik pelukan refleks atau...

Film berakhir sebagaimana kita – yang sebenarnya juga sudah berakhir. Tanpa menyadari permulaannya pun tak berpamitan berpisah pada akhirnya.

Sampai pada saatnya pulang menelusur basement, menerka dimana mobil terparkir. Panas, jemari kakiku tergesek terseok-seok di ubinnya yang semennya tidak rata. Hingga akhirnya dia menyerah di waktu yang tepat, di dalam mobil setelah akhirnya duduk nyaman, dia – sol sepatu itu copot juga.

Aku pun menyerah – dalam pelukannya yang dingin sedingin terpaan AC mobil bersuhu 19 derajat malam itu.
“Kita sudah mau sampai? Aku harap jalanan memadat saja”.
“Kuharap sebaliknya. Akan lebih baik jika kamu tidak pulang larut, kan?”

Bahkan seketika seluruh benda mati disana seolah mati untuk yang kedua kalinya melihat aku dalam pelukan teman laki-laki ku yang bahkan tidak ingin memulai lagi untuk kedua kalinya.

Kali kedua kita, tidak akan pernah ada.

“Kamu jangan lupa untuk selalu memperhatikan dirimu. Makan, tidur secukupnya, jangan sampai kurang atau terlambat. Belajar, bermain dan bekerja kuharap kamu bisa menyeimbangkan ketiganya. Karena semua apa yang kamu kejar, tak akan ada artinya bila kau merasa kekurangan atau bahkan kehilangan atas dirimu sendiri”. Bisikku dalam gelap dan terus menatapnya lekat walaupun tatapannya tak beranjak dari jalanan sepi yang bahkan tak perlu ditatap.
“Hmm..”, responnya begitu saja.

Aku lupa, apakah setelah itu aku mengatakan sesuatu seperti aku sayang kamu. Aku telah mengutuki diriku sendiri karena sepertinya kalimat tersebut mencelat keluar begitu saja.

I love you”, ucapku ringan sambil menatap kosong entah kemana dan menutup malam bersama dingin.

Comments

Popular posts from this blog