“Pahit tidak seharusnya dibagi, kepada orang lain apalagi orang banyak; terutama yang sayang padamu”, katanya. “ Untuk apa? Mencegah kekhawatiran”, katanya.
“Sulit kan membuat orang lain paham? Apalagi membuat mereka percaya. Untuk mewujudkannya, buat dirimu yakin pada dirimu sendiri dahulu. Kemudian lakukan, apapun. Prosesnya telan sendiri, kemudian hasilnya kamu deklarasi”.
Aku mengangguk setuju. Seketika bertekad untuk menerapkannya pada sisa hidup saat kalimat-kalimat petuah yang disampaikannya dengan santai itu mengudara pada ruang senyap yang harmonis bersinergi dengan bunyi dan aroma kopi yang sedang digiling.
Tidak ada alasan bagiku untuk mengkritisi pun menolak berbagai pelajaran hidup lainnya yang dengan murah hati dia bagi melalui cerita dengan canda tawa dan keseriusan yang tidak memaksa.
Kopi pagi yang biasanya terasa pahit dan makin pahit kemudian mencekik karna ditelan bersamaan dengan sisa kerumitan hari kemarin, saat itu semanis sirup gula alami yang tidak mencekat tenggorokan sama sekali.
Aku beryukur, tentu. Namun sayang, hanya ada satu versi manusia seperti ini. Sayang, hanya ada satu hari dari 23 tahun dimana resah akhirnya dapat kubagi. Habis sudah kopi, kami pergi dengan hatiku yang merasa telah dimengerti. Kubiarkan angin pagi kota Bogor saat itu bertiup seenaknya tanpa keluh sedikitpun.
Bogor,
tujuh puluh tujuh minggu yang lalu.

Comments
Post a Comment