Juni, Juni
Gak kerasa ya, kita sudah ada di kuartal dua. Banyak hal tak terduga yang diluar kendali kita, datang membawa berbagai efek samping yang berbeda bagi tiap penghuni semesta.
Ada yang masih bisa makan pizza pun ada yang harus terseok bahkan hanya untuk mengenyangkan perut meski dua hari sekali saja.
Ada yang masih merasa terjebak padahal ia hangat berkat
suasana rumah yang penuh cinta kasih keluarga. Sementara dibagian dunia
yang tak terlihat olehnya, ada batin-batin perantau yang terisak merindu
hingga beku tetesan air matanya oleh dingin kamar kos yang bahkan tak
berpendingin itu.
Kamu gak sendiri, sabar sedikit lagi.
Juni, Juni.
Kamu memang belum disini.
Tapi sepertinya akan ada banyak hal yang selama ini tak lumrah disini,
mau gak mau harus dihadapi nanti. Tetap dengan berbagai aksi yang harus
kami patuhi, demi kesembuhan Ibu Pertiwi.
Kami memang bukan peramal yang bisa menerka kemana takdir akan membawa raga, pun menyingkat cerita hingga tau lebih dulu akhirannya.
Tapi membayangkan bagaimana kami harus melerai rumitnya, beradaptasi dengan
kewajaran baru katanya, berdamai dengan fakta yang mengkhianati mimpi,
mengakhiri hal yang kami damba dan melawan ragu untuk berani memulai
sesuatu yang dianggap gila, cukup menambah bobot kepala yang idealnya
hanya dua persen dari berat tubuh manusia.
Kamu gak sendiri, bebanmu boleh dibagi
Belum lagi khawatir, akan banyaknya ruang yang mungkin kami tinggalkan kecewa didalamnya.
Kamu gak sendiri, ayo beri afirmasi pada diri
Segalanya tentangmu nanti Juni, semoga aku, dia, mereka, kita bisa melewatinya dengan baik ya.
Comments
Post a Comment